Swift

The Three Kingdoms Period of Korea



Awal Perkembangan

Berdasarkan Samguk Yusa dan beberapa catatan sejarah Korea, Kerajaan Gojoseon (old Joseon) didirikan tahun 2333 BC, pada abad pertama, dengan adanya invasi dari Han dynasty (China) kerajaan ini terpecah menjadi beberapa suku dan wilayah. Masa setelah ini adalah masa berdirinya Kerajaan Silla 57 BC, Goguryeo 37 BC, Baek Je 18 BC, dan sampai era expansi Silla terhadap BaekJe dan atas Goguryeo di 668 AD masa ini di kenal sebagai masa Tiga Kerajaan dalam sejarah Korea.

Kerajaan Silla adalah yang tertua di antara ketiganya, sedangkan Goguryeo adalah yang terluas diantara ketiganya. Tiga kerajaan ini mendominasi sepanjang wilayah peninsula dan manchuria (nama sejarah dari wilayah Asia Utara yang pada masa merupakan tanah kelahiran penduduk Xianbei, Khitan dan Jurchen.) dan juga berkompetisi satu dan lainnya dalam hal ekonomi dan militer. Terutama Goguryeo yang kerap kali memukul mundur invasi dari China.

The Three Kingdoms Period of Korea
Goguryeo

Goguryeo merupakan wilayah besar dan kuat di Asia Utara sampai masa ditaklukan oleh aliansi Silla - Tang di tahun 668, yang memecah menjadi wilayah Tang, Silla dan Balhae.

Berdasarkan Samguk Sagi, Goguryeo didirikan oleh Jumong pada 37 BC. Samguk Yusa dan Samguk Sagi mendeskripsikan bahwa Jumong berasal dari wilayah Buyeo Timur, dan merupakan pangeran dari Kerajaan Bu Yeo yang meninggalkan Bu Yeo menuju wilayah konfederasi Jolbon Buyeo, dimana ia menikah dengan So Seo No, anak perempuan dari pemimpin Jolbon. Jumong sendiri akhirnya menjadi raja ketika ia mendirikan Goguryeo bersama beberapa kelompok pengikutnya dari wilayah asalnya. Samguk Sagi menjelaskan, bahwa So Seo No adalah anak dari pemimpin kaya dan berpengaruh di Jolbon. Ia memberikan dukungan finansial kepada Jumong untuk berdirinya negara baru Goguryeo. Setelah Yuri, anak Jumong dari istri pertamanya datang ke Goguryeo, So Seo No meninggalkan Goguryeo dan membawa kedua anaknya BirYu dan Onjo menuju selatan untuk mendirikan Kerajaan mereka sendiri (kemudian dikenal sebagai Baek Je). Jumong dicatat telah menaklukan wilayah BirYu, Haeng-in, dan Okjeo utara. Raja Muhyul (18-44), cucu dari Jumomg, berhasil melakukan expansi besar pada masa kepemimpinannya dengan menaklukan Gaema, Guda , Nangnang, dan banyak wilayah suku-suku kecil lainnya. 

Yang terutama adalah keberhasilannya menaklukan Kerajaan besar Buyeo dan membunuh rajanya, Daeso. Dalam sejarah Goguryeo hanya 3 Raja yang mendapat gelar kehormatan; Jumong dengan gelarnya Dongmyeongseong, Muhyul dengan gelar Daemusin dan Dam Deok dengan gelarnya Gwanggaeto The Great.

Pada masa Raja Taejo tahun 53, Goguryeo menjadi Kerajaan yang tersentralisasi, dengan menajadikan lima suku di sekitarnya sebagai bagian dari distrik Kerajaan, sementara militer dan diplomatik diatur langsung oleh raja. Raja Taejo menaklukan wilayah Okjeo, Selatan Ye, Barat Daya Manchuria dan Utara Korea. Dengan meningkatnya sumber daya dan penduduk, Goguryeo menaklukan wilayah Lelang, Xiantu, Peninsula Liaodong yang berada dibawah otoritas Han (China). Jatuhnya dinasti Han (Berdirinya masa Tiga Kerajaan Cina (Wu, Shu, Wei), membuat Goguyeo beraliansi dengan Wei untuk menaklukan Liadong secara keseluruhan. Namun dengan ditaklukannya Liaodong, aliansi Wei dan Goguryeo pecah dan mengakibatkan perang diantara keduanya yang memukul mundur Goguryeo dari ibukotanya di Gunung Hwando. Akan tetapi Goguryeo berhasil menaklukan kembali Peninsula Liaodong. Sejak masa itu sampai abad ke 7, peninsula wilayah utara korea menjadi wilayah teritorial dibawah kontrol Tiga Kerajaan Korea.

Titik puncak kekuasaan Goguryeo (391-531) berada dalam masa Raja Gwanggaeto, dimana ia dengan cepat memperluas expansi militernya, dan berhasil menaklukan 64 kota berbenteng dan 1400 desa dalam sebuah campaignnya melawan Bu Yeo. Pada masa ini Goguryeo menguasai wilayah selatan Manchuria dan Utara dan tengah peninsula Korea.

Kejatuhan Goguryeo dimulai oleh aliansi Silla - Tang. Bek Je sebagai aliansi Goguryeo lebih dahulu takluk oleh aliansi Silla - Tang di tahun 660. Aliansi ini melanjutkan perlawanannya terhadap Goguryeo selama delapan tahun. Menyerahnya banyak kota di wilayah utara Goguryeo, membuat pasukan Tang memperoleh jalur untuk menaklukan ibukota Pyong Yang. Sementara wilayah selatan ditaklukan oleh Jenderal Silla, Kim Yushin. Tahun 668 raja terakhir Goguryeo, Bojang, menyerah terhadap Tang Gaozong. Kekuasaan Tang sendiri akhirnya tidak bertahan lama melawan pemberontakan penduduk Goguryeo, Dae Jung-sang dan anaknya Dae Joyeong, Jenderal pada masa Goguryeo, menaklukan kembali wilayah utara dan mendirikan kerajaan Jin yang berubah nama menjadi Balhae (698), setelah wafatnya Dae Jung-sang. Balhae kemudian disebut sebagai penerus Goguryeo.

Militer merupakan kekuatan utama Goguryeo. Panah dan katapult menjadi senjata andalan jarak jauh. Dua jenis pedang yang digunakan pejuang Goguryeo, pertama berukuran kecil dan bermata dua, biasa digunakan sebagai senjata lempar, kedua, berukuran panjang dengan hanya satu sisi yang tajam. Sistem militer Goguryeo memungkinkan untuk mengerakan 300.000 pasukan. Militer dengan jumlah kurang lebih 30.000 ditempatkan di setiap provinsi. Jenis pasukan terdiri dari: cavalry dipimpin oleh raja, spearmen, axemen, archers klompok lainya adalah catapult units, wall-climbers, storm units. Goguryeo juga dikenal akan sistem spionasenya, Samguk Yusa menyebutkan BaekSeok satu dari mata-mata terkenal berhasil menyusup kedalam Hwarang Silla.


Silla

Sila bermula dengan nama Saro-guk, wilayah negara dengan 12 anggota konfederasi, yang disebut Jinhan. Saro-guk terdiri dari 6 desa dan 6 klan. Berdasarkan sejarah catatan Korea, Silla didirikan oleh Raja Park Hyeokgeose, 57 BC. Kepemimpinan Silla berotasi dari tiga klan terkuat: Park, Seok, Kim. Pada abad kedua masehi Silla menguasai wilayah tenggara peninsula Korea. Disebelah barat Baekje menguasai wilayah konfederasi Mahan. Di wilayah Barat Daya Byeonheon, dikuasai konfederasi Gaya, dan di wilayah utara Goguryeo telah tumbuh sebagai wilayah besar yang menjadi ancaman. Rotasi kekuasaan berakhir pada era Raja Kim Naemul (356-402), dengan menciptakan sistem kerajaan turun temurun. Pada abad keempat Silla sempat menjalin aliansi dengan Goguryeo, dalam mengahadapi ancaman Baekje dan Jepang, namun tidak berlangsung lama hingga Goguryeo melakukan expansinya ke selatan dan memindahkan ibukotanya ke Pyongyang. Silla berhasil menaklukan konfederasi Gaya; Geumgwan Gaya tahun 532 dan Daegaya tahun 562, yang memperluas wilayah teritorial selatan Silla dan menjadikan ajaran Budha sebagai agama negara. Silla membangun militer yang kuat dalam era Raja Jinheung (540–576). Silla membantu Baekje memukul mundur Goguryeo dan kemudian merebut wilayah strategis Baekje di tahun 553 yang memutuskan aliansi Silla - Baekje selama 120 tahun. Dalam masa ini juga Raja Jinheung membentuk Hwarang.

Pada tahun 632-647 Silla dipimpin oleh wanita pertama kalinya,Ratu Seondeok, pada masa kepemimpinannya ia mendirikan menara peneropong bintang pertama yang disebut Cheomseongdae. Kesuksesan Seondeok dilanjutkan oleh sepupunya Queen Jindeok, yang kemudian menjadi akhir dari masa seonggol (sacred bone.) dengan meninggalnya Jindeok. Abad ketujuh, Silla menjalin aliansi dengan Tang Dinasty (China), dan tahun 660 dibawah kekuasaan Raja Muyeol (654-661), Silla menaklukan Baekje. Dan di tahun 668 Raja Munmu (661-681) beserta Jenderal Kim Yushin melanjutkan expansi aliansi Silla-Tang dengan menaklukan Goguryeo di utara. Silla membutuhkan satu dekade untuk kemudian memukul mundur koloni Tang dynasty untuk membentuk unifikasi Kerajaan Silla (668 -935). Sementara wilayah utara Goguryeo kemudian bergabung kembali menjadi Balhae. Masa dimulainya unifikasi Silla ini dapat dikatakan sebagai titik puncak Silla dan dimulainya era bangsawan dari jinggol (true bones.)

Pembunuhan Raja Hyegong di tahun 789, menyelesaikan kesuksesan keturunan Raja Muyeol, sebagai perancang unifikasi Silla. Kejadian ini menimbulkan terjadinya perang sipil berkepanjangan antara bangasawan Silla. Hal ini ditandai dengan semakin meluasnya kekuasaan para bangsawan dan keberadaan Raja yang hanya sebagai figur saja. Masa ini diakhiri dengan munculnya Hubaekje, Hugoguryeo, yang kemudian dikenal sebagai masa Later of Three Kingdoms, yang diakhiri dengan menyatunya Silla kedalam Goryeo dynasty.


Baekje

Baekje didirikan oleh Onjo, anak ketiga Jumong dan So Seo No, setelah menempuh perjalanan dari Goguryeo ke arah selatan. Jumong meninggalkan anak pertamanya Yuri di Buyeo, ketika ia meninggalkan kerajaan tersebut untuk membangun kerajaan baru. Jumong menjadi raja pertama Goguryeo dengan gelar Dongmyeongseong. Ia menikah dengan So Seo No dan memiliki anak, Onjo dan Biryu. Ketika Yuri datang ke Goguryeo, ia dianugerahi putra mahkota. So Seo No, membawa kedua anaknya beserta 10 budak, menuju Selatan untuk mendirikan kerajaan baru. Onjo menetap di Wiryeseong dan menamakan kerajaannya Sipje yang berarti 10 budak. 

Sementara BirYu menetap di Michuchol, berlawanan dengan nasihat para pengikutnya. Keadaan air yang asin di wilayahnya membuat Biryu sulit menetap, ia menemui Onjo dan meminta mahkota kerajaan tersebut, namun Onjo menolaknya. BirYu kemudian mendeklarasikan perang dengan Onjo, yang berakhir kekalahan di pihak BirYu. Biryu melakukan bunuh diri, dan para pengikutnya pindah menuju Wiryeseong, dan Raja Onjo menyambut baik mereka.

Ia kemudian menamakan kembali kerajaannya Baekje yang berarti 100 budak. Beberapa kali Onjo memindahkan ibukotanya dalam wilayah yang sama, hal ini karena adanya tekanan dari wilayah konfederasi Mahan. Ajaran Budha masuk ke Bekje tahun 384 dari Goguryeo. Bekje juga memegang peranan penting dalam pengembangan budaya, termasuk didalamnya karakter huruf China, Jepang kuno, dan ajaran Budha. Baekje juga menjadi kekuatan maritim yang hebat dan mencapai puncaknya di abad ke-4. Pada masa ini juga Baekje menjalin hubungan diplomatik yang menguntungkan dengan Jepang pada masa periode Kufun, berbagai macam aspek budaya juga turut diperkenalkan. Pada awal abad ke 5, Baekje memindahkan ibukotanya ke wilayah Ungjin, setelah mendapat tekanan militer wilayah selatan Goguryeo. Terlindung dari ancaman Goguryeo di wilayah utara, namun dengan struktur wilayah pegunungan menutup Baekje dari dunia luar. Wilayah ini lebih dekat dengan Kerajaan Silla di wilayah selatan Peninsula Korea. Baekje dan Silla kemudian membentuk aliansi melawan Goguryeo.

Pada tahun 583, Raja Seong memindahkan ibukota ke wilayah selatan Buyeo, masa ini dikenal sebagai periode Sabi, dimana budaya berkembang pesat pada masa ini. Menyadari tekanan dari utara oleh Goguryeo dan dari tenggara oleh Silla, Raja Seong memperkuat hubungan diplomatik dan perdagangan dengan China, hal ini berkembang pesat sampai abad ke 6. Meluasnya pengaruh dan teritorial Silla membuat Baekje memutuskan aliansi dengan Silla. Pada tahun 660 aliansi Dinasti Tang dan Silla menyerang Baekje, dalam pertempuran Hwangsanbeol di dekat wilayah Nonsan, Baekje menderita kekalahan telak, dan tidak lama setelah itu ibukota berhasil di kuasai oleh Silla, yang kemudian berakhir pada masuknya Baekje sebagai bagian dari kerajaan Silla.

Pasukan Baekje yang tersisa berusaha melakukan perlawanan dengan melakukan restorasi menghadapi 130.000 pasukan aliansi Silla-Tang. Jenderal Boksin, memproklamirkan Pangeran Buyeo Pung sebagai Raja Baekje yang baru. Baekje meminta bantuan kepada Jepang untuk melawan aliansi Silla-Tang. Pada tahun 663, restorasi Baekje dan dukungan aramada laut dari Jepang melawan aliansi Silla-Tang dalam pertempuran yang dikenal sebagai pertempuran Baekgang. Setelah beberapa kali konforontasi, aliansi Silla-Tang berhasil memperoleh kemenangan dan Raja Buyeo Pung melarikan diri ke Goguryeo, dan banyak pengikutnya melarikan diri ke Jepang.

Pada tahun 892 Baekje bangkit kembali seiring runtuhnya Unifikasi Silla, dimana Jenderal Gyeon Hwon mendirikan Hubaekje

Timeline

Three Kingdoms Period
* 57 BCE: Traditional date for the founding of Silla by Bak Hyeokgeose.
* 37 BCE: Traditional date for the founding of Goguryeo by Jumong.
* 18 BCE: Traditional date for the founding of Baekje by Onjo.
* 8: Baekje annexes much of the Mahan confederacy.
* 42: Traditional date for the founding of Gaya by Suro.
* 53: Goguryeo becomes a centralized kingdom under Taejo's reign.
* 105: Baekje and Silla sign peace treaty.
* 122: Goguryeo allies with the Mahan confederacy to attack Han China in Liaodong.
* 167: Baekje attacks Silla for harboring a Baekje court traitor.
* 188: Baekje expands into Silla territory, capturing several castles.
* 234: Baekje becomes a centralized kingdom under Goi's reign.
* 250: Goguryeo attacks Silla, signs truce.
* 313: Goguryeo destroys China's Lelang commandery.
* 346: Baekje's Geunchogo ascends to the throne, beginning the peak of Baekje's power.
* 356: Silla becomes a centralized kingdom under Naemul's reign.
* 369: Baekje completes absorption of the Mahan confederacy.
* 371: Baekje's King Geunchogo invades Goguryeo and kills King Gogugwon.
* 372: Under Sosurim, Goguryeo imports Buddhism from Former Qin of China.
* 384: Asin of Baekje officially adopts Buddhism.
* 392: Gwanggaeto the Great of Goguryeo begins his reign, expanding Goguryeo into a major regional power.
* 400: Goguryeo supports Silla with 50,000 troops to repel Wae of Japan.
* 413: Jangsu of Goguryeo erects the Gwanggaeto Stele.
* 427: Goguryeo moves its capital from Guknae Seong to Pyongyang.
* 433: Baekje and Silla form an alliance against Goguryeo's aggression.
* 475: Goguryeo attacks Baekje and captures Hanseong (modern day Seoul). Baekje moves its capital south to Ungjin(modern day Gongju), and again to Sabi(modern day Buyeo) in 523.
* 494: Last remains of Buyeo absorbed by Goguryeo.
* 498: Baekje attacks Tamna (modern day Jejudo)
* 512: Silla conquers Usan (modern day Ulleungdo)
* 522: Silla begins absorption of Gaya.
* 527: Silla formally adopts Buddhism
* 540: Silla establishes the Hwarang, a military and religious order of youth.
* 551: Silla-Baekje forces attack Goguryeo, Silla captures Seoul.
* 553: Silla attacks Baekje, breaking the alliance.
* 562: Silla completes annexation of Gaya.
* 598: First of a series of major Sui Dynasty attacks in the Goguryeo-Sui Wars, which ends in 614 in a costly defeat for Sui.
* 612: Goguryeo repulses second Sui invasion at the Salsu.
* 632: Queen Seondeok of Silla becomes the peninsula's first known ruling Queen. Cheomseongdae built.
* 645: Goguryeo repels attacking Tang Dynasty forces at Ansi fortress.
* 648: Silla establishes alliance with Tang.
* 660: Baekje falls to the Silla-Tang forces.* 668: Goguryeo falls to the Silla-Tang forces. 



You Might Also Like

0 komentar